Senyap, sang Film Kontroversial

Film. Sebuah gabungan berbagai seni. Bagaimana tidak? Di dalam sebuah film tak ayal terkandung musik, tari, drama, dan sejenisnya. Mungkin itu yang saya tahu karena saya hanya penikmat film yang tak tahu bagaimana membuatnya dan serumit apakah prosesnya. Kehidiran sebuah film bukan tidak mungkin karena permasalahan dan topik- topik unik yang timbul dalam masyarakat. Sebuah film, dibuat untuk memberikan pelajaran dan manfaat bagi penonton. Namun dalam perkembangannya tercipta berbagai jenis film, salah satunya documentary film. Inilah film yang tercipta dari keadaan yang real bukan cerita yang fiksi ataupun khayalan belaka. Tak jarang film ini menimbulkan kontroversi karena keberadaannya yang mungkin seperti ‘mengungkit masalah yang tabu’ yang menyebabkan beberapa pihak terganggu.

Salah satunya Film Senyap.

senyap

Belum lama film ini beredar di Indonesia, namun kehadirannya sontak menimbulkan kontroversial di beberapa daerah. Mengapa? Akan saya coba jelaskan

Senyap adalah karya Joshua Oppenheimer. Ia mencoba memfilmkan para pelaku genosida di Indonesia dalam film ini.Film Senyap atau ‘The Look of Silence’ bercerita mengenai pembantaian massal 1965 di Sumatera Utara. Film dokumenter ini bercerita mengenai seorang laki-laki yang mencari tahu pembunuh kakaknya. 40 tahun lebih telah berlalu, Adi Rukun dan ibunya yang sudah lansia masih memendam kepedihan dari tragedi pembantaian massal tahun 1965 di Indonesia. Kakak Adi adalah salah seorang korban pembantaian di Sumatera Utara. Adi mejalani kehidupan dengan tanda tanya besar atas kematian kakaknya. Bagaimana kakaknya terbunuh dan siapa pelakunya.

Senyap atau The Look of Silence adalah kelanjutan dari dokumenter sebelumnya Jagal atau The Act of Killing arahan sutradara AS Joshua Oppenheimer dan ko-sutradara anonim asal Indonesia. Film Senyap mengambil perspektif keluarga korban sementara Jagal mengambil perspektif para pelaku pembantaian.

Film Senyap, dan juga film sebelumnya, Jagal, adalah sebuah pengingat bahwa kebenaran belum lagi tuntas diungkapkan, keadilan belum lagi ditegakkan, permintaan maaf belum lagi dikatakan, korban belum direhabilitasi—apalagi mendapatkan rekompensasi atas segala yang dirampas dari mereka. Sesudah itu semua, sejarah yang diajarkan di sekolah masih bungkam mengenai kekejaman dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menimpa jutaan orang. Film Senyap, bagi saya adalah gaung bagi suara-suara lirih keluarga korban, penyintas, dan mereka yang tertindas. Saya berharap gemanya akan sanggup memperkuat suara-suara itu, karena di sela-sela kesenyapan itu juga ada banyak harapan. Film Senyap menunjukkan betapa rekonsiliasi adalah sebuah jalan panjang, penuh rintangan, dan berat. Kami berharap pesan film Senyap ini mencerminkan optimisme kami: “Rekonsiliasi adalah jalan berat, bukan jalan yang tak mungkin.” Ujar co-Sutradari Film Senyap

Tidak hanya mengundang kontroversi, Senyap juga memenangkan lima Penghargaan dalam Festival Film Internasional Venesia ke 71 di Italia akhir Agustus dan Usai premier di Venesia, film ini juga diputar dalam Festival Film Telluride dan Festival Film Toronto.

Banyak dari mereka yang tidak setuju penayangan film ini karena isi film itu sendiri yang dianggap memihak kepada PKI dan menjadi alat penyebaran kembali ideologi PKI pada masyarakat. Tapi kembali lagi pada diri kita masing-masing, tiap sesuatu dibuat adalah untuk mengundang manfaat, bukan berarti saya mendukung paham PKI atau membela para penganut komunis tapi seharusnya film ini memberikan pelajaran dari masa lalu agar tidak terulang kembali.

Jika sesuatu hal tidak terungkap selama-lamanya, bagaimana kita bisa tahu? Karena sesungguhnya sejarahlah yang membantu kita ke arah yang lebih baik agar tidak terjebak pada lubang yang sama. Isn’t right?

yah, setidaknya itu yang saya tahu dan pemikiran saya tentang film ini. Chao!

Civil Servant, Lord of the Job

Malam kemarin aku tak sengaja membuka social media lama. Sedikit terkejut dengan foto yang di post oleh teman social mediaku yang juga merupakan teman SMA ku.
Hari ini aku ingin bercerita atau bertanya atau lebih tepatnya lagi menuangkan perasaan bingung atas fenomena masyarakat kita.
Kalian ingin tau apa yang ku lihat malam kemarin? Foto mantan? Bukan. Karena ini bukan blog curhat tentang percintaan dan aku juga tak akan pernah buat post atau blog berisi soal itu. Hal tabu yang tidak penting untuk diperdebatkan. Foto itu soal idelisme seseorang tapi cerminan idelisme kebanyakan masyarakat yang ada di sekitar kita atau bahkan anda sendiri. Dala foto itu, temanku sedang mengenakan pakaian hitam putih dan terkalung id card warna kuning di lehernya, ia berdiri dengan beberapa temannya. Lalu apa ?apa yang membuatku terkejut? Aku terkejut dia pindah tempat kuliah. Tapi sesungguhnya bukan itu saja. Aku tersadar beberapa hal dari foto itu, tentang pola pikir masyarakat sekarang.
Temanku itu setahun yang lalu diterima di Universitas Negeri di Surabaya yang cukup terekenal namanya di program sarjana, dan aku tahu dia cukup sukses di sana dibuktikan dengan IP cumlaude di awal semester dan aktif di organisasi. Tapi, awal bulan ini dia memilih pindah ke perguruan tinggi kedinasan yang juga terkenal yang tentunya bukan di program sarjana karena kalian tahu sendiri kan kalau PTK tidak ada level sarjananya. Lalu apa masalahku?
Aku bingung.
Sebenarnya apa yang kita cari dari sekolah uliah atau apalah namanya. Ilmukah? Temankah? Lulus langsung kerja kah? Atau apalah itu. Semenjajikan itukah menjadi seorang pegawai negeri?
Aku masih ingat betul, kata bapak dan Ibuku ,”Jadilah Pegawai negeri ya nak, yang gajinya banyak dan carilah suami yang pegawai negeri pula”. Dulu aku percaya itu, tapi sekarang aku meragukannya. Tapi aku yakin bahkan kalian yang membaca post ku ini pasti berkeinginan besar menjadi pegawai negeri, pesuruh negara. Terdengar mulia menjadi pesuruh negara tapi coba kalian pikirkan kembali dan ulangi kata “pesuruh negara” berulang kali kalian akan menyadari ada sisi hina dari seorang pesuruh negara.
Aku bingung.
Apa yang kita cari saat kita bekerja?
Uang? Pengalaman? Pahala? Atau sekedar meyalurkan hobi? Atau tidak ada?
Aku masih ingat kata guru agamaku dulu, kata beliau janganlah bekerja dengat niat cari uang tapi berniatlah bekerja karena Allah maka uang dan rejeki lainnya akan datang dengan sendirinya. Aku bukan ahli agama, ahli tafsir atau sejenisnya tapi bukankah jika kita bekerja niat karena Yang Mahakuasa harusnya tidak memilih- milih pekerjaan yang gajinya besar dan pekerjaannya hanya yaa, menghabiskan anggaran? You know what I mean kan lah ya.
Terlihat prestisius kuliah di perguruan tinggi yang terkenal akan lulusannya akan jadi pegawai negeri. Semua orang tua ingin anaknya seperti itu, termasuk orang tua saya. Berngkat kerja pagi sampai kantor duduk depan komputer dan melakukan pekerjaan yang sama berulang- ulang setiap harinya kecuali hari sabtu dan minggu dan mungkin beberapa tahun kemudian beralih ke kursi yang lebih empuk dan ruang yang lebih megah, pekerjaan yang lebih ringan dan tentunya pertambahan gaji yang lebih besar.
Aku iri. Ya iri bukan karena aku tidak bisa masuk perguruan tinggi yang lulusannya 99% jadi pesuruh negara. Bukan. Tapi aku iri mengapa masyarakat begitu memuja mereka, mengelu-elukan mereka yang tidak semua dari mereka benar- benar pintar dalam hal di bidangnya. Itu saja. Sesempit ituka pola pikir masyarakat kita?atau kita memang terlahir untuk muak akan hal- hal dinamis yang justru akan membuat kita semakin berkembang. Berkembang bukan hanya terus- terusan menjadi negara berkembang tapi menjadi negara maju, maju dalam segala hal termasuk mind set masyarakatnya.
Perguruan tinggi kedinasan tidak jelek sama sekali tidak jelek tapi sayangnya sisi lainnya seperti membuat pola pikir masyarakat akan ke-instan-an kesuksesan itu memang ada. Bahwa memajukan negara dengan inovasi itu tidak penting. Bahwa kepentingan diri sendiri itu lebih penting dari memajukan tempat kelahiran sendiri. Sedikitpun tak pernahkah kalian berpikir tentang itu? Tentang keegoisan hidup demi uang dari anggaran yang dicari dari hutang?
Aku memang bukan siapa-siapa, hanya mahasiswa diploma dari kampus kerakyatan yang punya mimpi besar. Yang selalu sabar dan tegar walaupun fakultasnya dianak tirikan oleh kampus induknya dan diambang ketidakjelasan statusnya. Aku selalu bermimpi dan berharap, Indonesia menghargai ide- ide kreatif, inovasi, dan keramahan lingkungan. Aku selalu optimis akan itu, tapi terkadang percuma berharap sendiri.
Uang membutakan harapan dan perjuangan. CPNS menjadi fenomena instant untuk meraih kursi jabatan. Aku tidak melarangnya, bagus ada CPNS (yang bersih) tapi tolonglah kalian para pegawai negeri dan calon pegawai negeri, berkerjalah untuk negara janganlah jadi robot pesuruh yang hina, selalu ciptakan inovasi walaupun tempat kerjamu mengekangmu. Bisa kah kalian? Janganlah hanya bercita- cita jadi seorang yang menghabiskan pendapatan negara saja. Jangan berkaca pada mereka yang mencuri uang negara, kapan kita para pemuda menjadi agen perubahan jika masih saja apatis dengan perilaku seperti itu walau dalam porsi kecil saja? Kapan negar kita mampu maju? Kapan? Tanyakan itu pada diri kalian.