Senyap, sang Film Kontroversial

Film. Sebuah gabungan berbagai seni. Bagaimana tidak? Di dalam sebuah film tak ayal terkandung musik, tari, drama, dan sejenisnya. Mungkin itu yang saya tahu karena saya hanya penikmat film yang tak tahu bagaimana membuatnya dan serumit apakah prosesnya. Kehidiran sebuah film bukan tidak mungkin karena permasalahan dan topik- topik unik yang timbul dalam masyarakat. Sebuah film, dibuat untuk memberikan pelajaran dan manfaat bagi penonton. Namun dalam perkembangannya tercipta berbagai jenis film, salah satunya documentary film. Inilah film yang tercipta dari keadaan yang real bukan cerita yang fiksi ataupun khayalan belaka. Tak jarang film ini menimbulkan kontroversi karena keberadaannya yang mungkin seperti ‘mengungkit masalah yang tabu’ yang menyebabkan beberapa pihak terganggu.

Salah satunya Film Senyap.

senyap

Belum lama film ini beredar di Indonesia, namun kehadirannya sontak menimbulkan kontroversial di beberapa daerah. Mengapa? Akan saya coba jelaskan

Senyap adalah karya Joshua Oppenheimer. Ia mencoba memfilmkan para pelaku genosida di Indonesia dalam film ini.Film Senyap atau ‘The Look of Silence’ bercerita mengenai pembantaian massal 1965 di Sumatera Utara. Film dokumenter ini bercerita mengenai seorang laki-laki yang mencari tahu pembunuh kakaknya. 40 tahun lebih telah berlalu, Adi Rukun dan ibunya yang sudah lansia masih memendam kepedihan dari tragedi pembantaian massal tahun 1965 di Indonesia. Kakak Adi adalah salah seorang korban pembantaian di Sumatera Utara. Adi mejalani kehidupan dengan tanda tanya besar atas kematian kakaknya. Bagaimana kakaknya terbunuh dan siapa pelakunya.

Senyap atau The Look of Silence adalah kelanjutan dari dokumenter sebelumnya Jagal atau The Act of Killing arahan sutradara AS Joshua Oppenheimer dan ko-sutradara anonim asal Indonesia. Film Senyap mengambil perspektif keluarga korban sementara Jagal mengambil perspektif para pelaku pembantaian.

Film Senyap, dan juga film sebelumnya, Jagal, adalah sebuah pengingat bahwa kebenaran belum lagi tuntas diungkapkan, keadilan belum lagi ditegakkan, permintaan maaf belum lagi dikatakan, korban belum direhabilitasi—apalagi mendapatkan rekompensasi atas segala yang dirampas dari mereka. Sesudah itu semua, sejarah yang diajarkan di sekolah masih bungkam mengenai kekejaman dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menimpa jutaan orang. Film Senyap, bagi saya adalah gaung bagi suara-suara lirih keluarga korban, penyintas, dan mereka yang tertindas. Saya berharap gemanya akan sanggup memperkuat suara-suara itu, karena di sela-sela kesenyapan itu juga ada banyak harapan. Film Senyap menunjukkan betapa rekonsiliasi adalah sebuah jalan panjang, penuh rintangan, dan berat. Kami berharap pesan film Senyap ini mencerminkan optimisme kami: “Rekonsiliasi adalah jalan berat, bukan jalan yang tak mungkin.” Ujar co-Sutradari Film Senyap

Tidak hanya mengundang kontroversi, Senyap juga memenangkan lima Penghargaan dalam Festival Film Internasional Venesia ke 71 di Italia akhir Agustus dan Usai premier di Venesia, film ini juga diputar dalam Festival Film Telluride dan Festival Film Toronto.

Banyak dari mereka yang tidak setuju penayangan film ini karena isi film itu sendiri yang dianggap memihak kepada PKI dan menjadi alat penyebaran kembali ideologi PKI pada masyarakat. Tapi kembali lagi pada diri kita masing-masing, tiap sesuatu dibuat adalah untuk mengundang manfaat, bukan berarti saya mendukung paham PKI atau membela para penganut komunis tapi seharusnya film ini memberikan pelajaran dari masa lalu agar tidak terulang kembali.

Jika sesuatu hal tidak terungkap selama-lamanya, bagaimana kita bisa tahu? Karena sesungguhnya sejarahlah yang membantu kita ke arah yang lebih baik agar tidak terjebak pada lubang yang sama. Isn’t right?

yah, setidaknya itu yang saya tahu dan pemikiran saya tentang film ini. Chao!

Advertisements

Pluralisme

Pluralisme. Katanya bangsa kita bangsa yang menjunjung keanekaragaman dengan kata lain kita bangsa yang tidak jauh dengan keadaan pluralisme.

Kata pluralisme berasal dari bahasa Inggris (pluralism), terdiri dari dua kata plural (beragam) dan isme (paham) yang berarti beragam pemahaman, atau bermacam-macam paham. Dari penjelasan tersebut kesimpulan saya, secara sederhana pluralisme ditinjau dari sudut pandang keadaan/ kondisi adalah dimana dalam suatu lingkup tempat yang dihuni tidak hanya satu jenis spesies dengan kata lain bermacam-macam spesies. Seperti dalam pelajaran Bahasa Inggris, plural sendiri berarti jamak/banyak. So, what’s the next?

Pada dasarnya kita, bangsa Indonesia adalah masyarakat plural. Indonesia memiliki beraneka ragam ras, suku, budaya, dan agama. Sangat plural.

Lalu apa masalahnya?

Sudahkah kita menghargai pluralisme? Paling kecil dengan lingkungan sekitar lah. Kadang masalah agama membuat kita menjauhi seseorang, bahasa yang berbeda menimbulkan masalah dan perkelahian. Kadang ras tertentu menjadi minoritas dalam suatu tempat. Pluralisme masih menjadi masalah tabu dalam masyarakat. Bahkan pemimpin yang menjunjung pluralisme kadang dianggap salah. Masyarakat belum sadar bahwa mereka tidak hidup sendiri terutama mereka kaum mayoritas. Alasan mereka cukup relistis, mereka menganggap (misal agama) mereka paling benar. Sama sekali tidak salah karena setiap agama punya ajaran sendiri yang tentunya baik. Tapi bukan berarti mematikan eksistensi kelompok lain. Setidaknya berilah kesempatan pada kelompok lain, budaya merendahkan dan mengolok-olak setidaknya bisa dikurangi. dalam hal ini bukan berarti saya membela kaum minoritas dan mengecam pihak mayoritas yang kurang sekali menghargai kawan dalam keadaan pluralisme. Juga sebaliknya, bukan berarti ketika pihak minoritas juga berusaha melenyapkan pihak yang sekarang jadi mayoritas. Jadikan keadaan plura ini sebagai kelebihan dalam hidup bermasyarakat, menjadi ujian perdamaian bagi suatu bangsa dan justru buka menjadi akar masalah.

Mulai dari kita sendiri, keanekaragam itu diciptakan untuk menjadikan manusia saling menghargai bukan salih menyalahkan. Berhenti mengitimadasi agama, ras, suku selain kita, karena mereka juga mausia. Biarkan keanekaragam tumbuh, berkembang, dan hidup berdampigan.

5 Alasan Mengapa Harus ke Jerman

Akhir- akhir ini mungkin saya akan lebih sering meng-update isi mind garage ini, ya alasan nya sih simple aja. Karena 7 hari ke depan adalah libur yang cukup panjang (padahal minggu tenang sebelum UAS) yang realitasnya saya gak pulang kampung jadi terpaksa membusuk di kos dan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat, ya kayak gini nih haha. Dan kali ini bahasa dan yang dibahas santai dikit ya, habis ini kita bahas politi-politikan deh (efek jadi penggembira pemilwa kampus). Oke cukup curcolnya ya guys

923569_446083035476014_554235974_ncropped-berlin_wallpaper_16_9_by_vlooyoo-d5kk5bo.jpg


Yap,sebelum saya cerita panjang lebar soal topik untuk judul hari ini, saya mau tanya dulu nih sama kalian, do you have any favourite country? City? or something like that? Bisa kalian jawab dalam hati aja sih gak harus di bilik comment guys. Yap, Germany or also called Deutschland is my lovely country, my second country after Indonesia tercintah. Nah, kayak Pak Beye yang second country-nya USA sedangkan saya punya Jerman. Jadi, di segment kali ini saya mau cerita, apa sih yang membuat saya menjadi ‘lil crazy’ to Germany?

1. Jerman itu punya timnas sepakbola dan Club Bola yang berkualitas

Jerman itu punya timnas sepakbola yang keren bahkan menurut saya sebelum menang world cup kemarin DFB (nama timnas Jerman) sudah keren. DFB inilah yang memperkenalkan kepada saya betapa cantiknya olahraga sepak bola. Saya mulai tahu siapa Jerman saat saya SD kalau gak salah saat worldcup kira-kira tahun 2002-an. Walaupun dulu saya sama sekali gak tau Jerman itu dimana tapi dari situlah saya mulai  titik awal mengenalnya. Gak cuma timnas nya yang keren, Liga Sepak bola Jerman juga mulai bersaing di kancah Eropa dengan adanya club-club yang berkualitas, sebut saja Bayern Muenchen, Borussia Dortmund, Bayern Leverkusen dll, bagi kalian bola lovers pasti paham lah ya betapa kuatnya mereka

2. Jerman jadi salah satu negara kuat di dunia

Hal itu bisa dibuktikan dengan berkembangya teknologi yang cukup pesat mulai dari bidang penerbangan, otomotif, obat-obatan,persenjataan, penemuan-penemuan baru hingga fashion, sebut saja merek sepatu Adidas. Gak cuma itu, Jerman juga menjadi salah satu negara eropa yang terhindar krisis ekonomi bahkan Jerman justru membantu negara European Union lainnya. Duniabe perpolitikan nya juga gak ancur kayak di Indonesia, tingkat korupsi kecil dan punya pemerintahan yang tegas dan benar- benar bertanggung jawab, termasuk kanselir Jerman sekarang, Angela Merkel.

3. Pendidikan di Jerman sangat maju dan berkualitas

Ini menjadi alasan mengapa saya pengen banget kuliah di Jerman. Pemerintah Jerman benar- benar memperhatikan pendidikan  bagaimana tidak, kuliah sarjana di Jerman gratis dan hampir semua universitas di Jerman itu mutu nya sama. Jadi ini membuka peluang besar untuk berburu scholarship ke Jerman, ya termasuk saya. Sebagian besar orang pengen banget kuliah di UK, France, US tapi meenurut saya kuliah di Jerman lebih Istimewa. Kebanyakan scholarship ke Jerman adalah jenjang Master dan Doctor, selain itu ketika kita sudah punya visa pelajar, memungkinkan banget mendapatkan transportasi gratis ke seluruh Jerman dan bisa keliling negara- negara Eropa lainnya. Kualitas pendidikan di Jeman itu TOP, lulusan-lulusan dari Universitas di Jerman mudah banget dapat pekerjaan, bahkan pemerintah Jerman mencarikan pekerjaan bagi kita para perantau terlebih lagi kalau kita punya nilai bagus. Tapi, jangankan dapat nilai bagus, lulus tepat waktu aja susahnya bukan main. Karena pendidikan di Jerman memang disiplin, tapi justru itu sisi baiknya. Pak habibie aja kuliah di sana hloo

4. Suasana dan Keadaan Jerman yang Eropa banget

Gedung- gedung di Jerman mempunyai arsitektur khas Eropa, yaiyalah letaknya aja di Eropa. Memang gak se-klasik di Italy atau di France tapi menurutku Jerman juga gak kalah, mulai dari tembok Berlin, beberapa museum kota, perpustakaan, dan gedung PBB. Selain itu ada Allianz Arena, duh pengen banget kesana dan jangan lupa Jerman punya 4 musim gak seperti di Indonesia. Suasana kota yang bersih tanpa adanya asap kendaraan, gak macet dan ramah sama pejalan kaki.

5. Kultur Jerman

Budaya Jerman unik dan tentunya eropean banget, banyak event- event tertentu yang dirayakan. Masyarakatnya yang lebih menjunjung tinggi bahasa sendiri jadi kita yang berencana ke Jerman harus belajar Bahasa Jerman ekstra dan di Jerman lumayan banyak masjid, wow! secara sebagai seorang muslin jarang sekali di negara yang mayoritas nasrani ada lumayan banyak masjid. so, I think Germany is suitable for me and also maybe for you para muslim yang pengen ke europe.

Jadi itulah 5 Alasan mengapa saya pengen banget ke Jerman, kuliah dan sekaligus liburan di sana. Begitu banyak sisi lain Jerman yang belum saya ketahui dan InsyaAllah akan saya share lagi banyak fakta dari Jerman setelah saya benar- benar menginjak tanah Jerman suatu saat nanti. Ich Liebe Deutsch

Semoga Bermanfaat! Bis bald!

7287_208429575977930_151558139_n.jpg

Siapa Bilang Sekolah di UGM Masuknya Susah?

Universitas Gadjah mada
Siapa sih yang gak tahu UGM? Itu lho Universitas yang punya prodi terbanyak di Indonesia dan yang katanya disebut sebagai kampus kerakyatan. Pokoknya kampus idaman banget bagi anak kelas XII SMA. Dari fakta yang ada memang benar UGM itu termasuk universitas favorit di Indonesia. Oke coba saya sebutkan ke-amazing-an UGM;
1. Lokasi strategis, luas, dan bangunan yang megah nan moderen
2. Kurikulum standar internasional
3. Pengajar yang berkualitas dan rata-rata doctor coy!
4. Lulusannya pun berkualitas, dibuktikan dengan mudahnya mendapat pekerjaan dan banyak orang terkenal (Politisi, Presiden!,Menteri,Entrepreneur,Ilmuan,Model!,dll) adalah lulusan UGM! Keren gak!?
5. Mahasiswa/i nya ramah, pintar, cantik, ganteng, dan kritis. Pokoknya TOPBGT!
6. Katanya sih pro sama mahasiswa miskin
7. Prodi yang ditawarkan cukup lengkap dan rata- rata terakreditasi A, Cuma ada sih yang blablabla gitu
8. Saringan masuknya ketat, jadi yang gak pintar jangan berharap bisa kuliah S1 UGM! Catet
9. Event-event keren sering banget di UGM, mulai konser musik, seminar, talkshow, pelitah blablabla, job fair, festival apaan gitu dan masih banyak lagi tapi bayar tentunya hehe. Eh tapi kadang ada yang gratis kok
10. Yang terpenting kalau kalian kuliah di UGM itu kelihatan WAH! Dan ber-integritas tinggi. Secara universitasnya orang terkemuka bro!
Nah udah ngerasa merinding belum merasakan gimana rasanya kuliah di UGM bagi kalian UGM-dreamer ? eh eh tapi kok tagline judul nya sekolah di UGM gak susah? Maksudnya apa?! Aseeek, ini nih yang ditunggu- tunggu, bagi kalian para UGM dreamer jangan kecil hati dulu yaa kalau nantinya gak bisa kuliah di UGM, masih ada jalan yang pintunya terbuka lebar bagi kalian untuk sekolah di UGM dan sama-sama dapat jaket almamater karung goni nya kok. Buat kalian yang mengerti, IQ TOP. Saya doakan semoga bisa KULIAH DI UGM!

One vision, one Identity, one Community

images
Ketika kalian membaca judul di atas, apa yang ada dibenak kalian? Sungguh sangat disayangkan jika kalian tidak tau maknanya. Bukan hanya translate ke Bahasa Indonesia tapi makna filosofisnya, tapi bersyukurlah jika kalian tahu makna dan maksud judul itu, I give 3 stars for you! Yap, that’s right, that’s a motto for AEC 2015. Tidak tahu AEC itu apa? So poor you, You are in the danger level man.

Oke tulisan saya kali ini akan membahas AEC 2015, agak terlambat sih tapi tak apa saya akan berbagi ilmu bagi kalian yang tidak tahu ataupun kalian yang ingin tahu AEC lebih jauh. Mengapa saya berani berkata ada yang belum tahu soal AEC? Yap, Beberapa hari yang lalu, saya tidak sengaja menguping pembicaraan beberapa mahasiswa tentang AEC, mereka saling mengobrol soal itu tapi mengenaskannya mereka terdengar belum tahu apa-apa soal AEC. Mereka hanya mendiskusikan apa yang dikatakan dosen ketika kuliah dan dari beberapa orang itu belum ada yang benar- benar tahu, padahal sudah MAHASISWA SEMESTER 5! Megenaskan!

Sebenarnya AEC itu apa sih? AEC adalah singakatan dari Asean Economic Community. Lalu mengapa biasanya diembel- embeli 2015? Asean Economic Community adalah gebrakan dari petinggi- petinggi dari negara- negara ASEAN untuk membentuk Komunitas Ekonomi Asean dan rencananya akan dimulai pada tahun 2015. Lalu apa untungnya kita tahu? Ini sangat penting, dengan dimulainya AEC 2015 ini akan menjadi titik mula persaingan global negara- negara ASEAN. Pada dasarnya latar belakang dibentuknya AEC atau biasa juga dikenal MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) adalah untuk membentuk ASEAN menjadi kawasan yang stabil, sejahtera, dan kompetitif dengan pembangunan ekonomi, mengurangi kemiskinan dan disparitas sosial ekonomi antar negara di ASEAN (ASEAN Vision 2020). Selain itu diharapkan kedepannya ASEAN dapat menjadi penyedia factor produksi bagi negara – negara di seluruh dunia. ASEAN tidak hanya sebagai pasar untuk produk – produk dari negara – negara Eropa, Amerika maupun Asia Timur.
Negara dalam kawasan ASEAN akan berkompetisi untuk bertahan dalam AEC ini, bagaimana tidak? Dengan dimulainya AEC tahun 2015 nanti pasar global ASEAN akan semakin terbuka lebar. Ekspor impor akan semakin meningkat, pertumbuhan ekonomi semakin pesat. Tapi dengan catatan, apabila negara tersebut mampu bertahan dan cukup siap. Dan Indonesia bisa dikatakan belum cukup siap akan hal tersebut. berdasarkan data World Economy Forum (WEF), daya saing Indonesia berada di urutan 55 dunia pada 2008 dan kemudian menjadi peringkat 50 dunia tahun 2012. Indonesia masih jauh tertinggal dari Singapura di peringkat tiga dunia, Malaysia ke-25, dan Thailand urutan ke-38. Jika ditinjau dari tujuan diberlakukannya, lanjut dia, AEC merupakan realisasi dari keinginan yang tercantum dalam Visi 2020 untuk mengintegrasikan ekonomi negara-negara Asean dengan membentuk pasar tunggal dan basis produksi bersama. Visi 2020 menyatakan, dalam pelaksanaan AEC, negara-negara anggota harus memegang teguh prinsip pasar terbuka (open market), berorientasi ke luar (outward looking), dan ekonomi yang digerakkan oleh pasar (market drive economy) sesuai dengan ketentuan multilateral.
Lalu bagaimana caranya Indonesia bisa bertahan? Jelas perlu ada penguatan di beberapa sektor yang masih rapuh dalam regulasinya terutama dalam sektor perekonomian. Yang juga perlu diperhatikan adalah sumber daya manusia di Indonesia sendiri, mampu bersaing dengan negara ASEAN lain atau tidak. Dan itu adalah tugas kita sebagai mahasiswa. Sebenarnya, lebih bisa dikatakan pilihan bukan tugas. Mengapa? Off course tergantung pribadi kita sendiri, mau tersingkir dari negara sendiri atau justru menjajah negara lain. Jika AEC saja maknanya belum cukup tahu, bagaimana mau mempersiapkannya. Perlu diketahui bahwa mulai tahun 2015 kita tidak hanya bersaing dengan orang Indonesia dalam mencari pekerjaan tapi dengan negara ASEAN lainnya dan itu TIDAK MUDAH! Persiapkan skill kalian dan bahasa asing yang mempuni jika tidak mau tersingkir. Memang ada batasan- batasan dalam bahasa, misalnya saja orang thailand ingin bekerja di Indonesia harus bisa bahasa Indonesia namun asal kalian tahu banyak orang Thailand, filipina dll yang sudah bisa Bahasa Indonesia! Memang terserah kalian but this is real, The war comes closer guys.

Civil Servant, Lord of the Job

Malam kemarin aku tak sengaja membuka social media lama. Sedikit terkejut dengan foto yang di post oleh teman social mediaku yang juga merupakan teman SMA ku.
Hari ini aku ingin bercerita atau bertanya atau lebih tepatnya lagi menuangkan perasaan bingung atas fenomena masyarakat kita.
Kalian ingin tau apa yang ku lihat malam kemarin? Foto mantan? Bukan. Karena ini bukan blog curhat tentang percintaan dan aku juga tak akan pernah buat post atau blog berisi soal itu. Hal tabu yang tidak penting untuk diperdebatkan. Foto itu soal idelisme seseorang tapi cerminan idelisme kebanyakan masyarakat yang ada di sekitar kita atau bahkan anda sendiri. Dala foto itu, temanku sedang mengenakan pakaian hitam putih dan terkalung id card warna kuning di lehernya, ia berdiri dengan beberapa temannya. Lalu apa ?apa yang membuatku terkejut? Aku terkejut dia pindah tempat kuliah. Tapi sesungguhnya bukan itu saja. Aku tersadar beberapa hal dari foto itu, tentang pola pikir masyarakat sekarang.
Temanku itu setahun yang lalu diterima di Universitas Negeri di Surabaya yang cukup terekenal namanya di program sarjana, dan aku tahu dia cukup sukses di sana dibuktikan dengan IP cumlaude di awal semester dan aktif di organisasi. Tapi, awal bulan ini dia memilih pindah ke perguruan tinggi kedinasan yang juga terkenal yang tentunya bukan di program sarjana karena kalian tahu sendiri kan kalau PTK tidak ada level sarjananya. Lalu apa masalahku?
Aku bingung.
Sebenarnya apa yang kita cari dari sekolah uliah atau apalah namanya. Ilmukah? Temankah? Lulus langsung kerja kah? Atau apalah itu. Semenjajikan itukah menjadi seorang pegawai negeri?
Aku masih ingat betul, kata bapak dan Ibuku ,”Jadilah Pegawai negeri ya nak, yang gajinya banyak dan carilah suami yang pegawai negeri pula”. Dulu aku percaya itu, tapi sekarang aku meragukannya. Tapi aku yakin bahkan kalian yang membaca post ku ini pasti berkeinginan besar menjadi pegawai negeri, pesuruh negara. Terdengar mulia menjadi pesuruh negara tapi coba kalian pikirkan kembali dan ulangi kata “pesuruh negara” berulang kali kalian akan menyadari ada sisi hina dari seorang pesuruh negara.
Aku bingung.
Apa yang kita cari saat kita bekerja?
Uang? Pengalaman? Pahala? Atau sekedar meyalurkan hobi? Atau tidak ada?
Aku masih ingat kata guru agamaku dulu, kata beliau janganlah bekerja dengat niat cari uang tapi berniatlah bekerja karena Allah maka uang dan rejeki lainnya akan datang dengan sendirinya. Aku bukan ahli agama, ahli tafsir atau sejenisnya tapi bukankah jika kita bekerja niat karena Yang Mahakuasa harusnya tidak memilih- milih pekerjaan yang gajinya besar dan pekerjaannya hanya yaa, menghabiskan anggaran? You know what I mean kan lah ya.
Terlihat prestisius kuliah di perguruan tinggi yang terkenal akan lulusannya akan jadi pegawai negeri. Semua orang tua ingin anaknya seperti itu, termasuk orang tua saya. Berngkat kerja pagi sampai kantor duduk depan komputer dan melakukan pekerjaan yang sama berulang- ulang setiap harinya kecuali hari sabtu dan minggu dan mungkin beberapa tahun kemudian beralih ke kursi yang lebih empuk dan ruang yang lebih megah, pekerjaan yang lebih ringan dan tentunya pertambahan gaji yang lebih besar.
Aku iri. Ya iri bukan karena aku tidak bisa masuk perguruan tinggi yang lulusannya 99% jadi pesuruh negara. Bukan. Tapi aku iri mengapa masyarakat begitu memuja mereka, mengelu-elukan mereka yang tidak semua dari mereka benar- benar pintar dalam hal di bidangnya. Itu saja. Sesempit ituka pola pikir masyarakat kita?atau kita memang terlahir untuk muak akan hal- hal dinamis yang justru akan membuat kita semakin berkembang. Berkembang bukan hanya terus- terusan menjadi negara berkembang tapi menjadi negara maju, maju dalam segala hal termasuk mind set masyarakatnya.
Perguruan tinggi kedinasan tidak jelek sama sekali tidak jelek tapi sayangnya sisi lainnya seperti membuat pola pikir masyarakat akan ke-instan-an kesuksesan itu memang ada. Bahwa memajukan negara dengan inovasi itu tidak penting. Bahwa kepentingan diri sendiri itu lebih penting dari memajukan tempat kelahiran sendiri. Sedikitpun tak pernahkah kalian berpikir tentang itu? Tentang keegoisan hidup demi uang dari anggaran yang dicari dari hutang?
Aku memang bukan siapa-siapa, hanya mahasiswa diploma dari kampus kerakyatan yang punya mimpi besar. Yang selalu sabar dan tegar walaupun fakultasnya dianak tirikan oleh kampus induknya dan diambang ketidakjelasan statusnya. Aku selalu bermimpi dan berharap, Indonesia menghargai ide- ide kreatif, inovasi, dan keramahan lingkungan. Aku selalu optimis akan itu, tapi terkadang percuma berharap sendiri.
Uang membutakan harapan dan perjuangan. CPNS menjadi fenomena instant untuk meraih kursi jabatan. Aku tidak melarangnya, bagus ada CPNS (yang bersih) tapi tolonglah kalian para pegawai negeri dan calon pegawai negeri, berkerjalah untuk negara janganlah jadi robot pesuruh yang hina, selalu ciptakan inovasi walaupun tempat kerjamu mengekangmu. Bisa kah kalian? Janganlah hanya bercita- cita jadi seorang yang menghabiskan pendapatan negara saja. Jangan berkaca pada mereka yang mencuri uang negara, kapan kita para pemuda menjadi agen perubahan jika masih saja apatis dengan perilaku seperti itu walau dalam porsi kecil saja? Kapan negar kita mampu maju? Kapan? Tanyakan itu pada diri kalian.

Negeri Apa Ini ?

Aku tak tahu aku dimana

Tapi yang jelas aku tahu namanya

Indonesia

ya, Negeri yang katanya indah

Negeri yang katanya bak surga dunia

Negeri yang katanya tak akan habis sumber dayanya

Tapi nyatanya ?

Ini Negeri para bedebah

Negeri dengan pemimimpin khianat

Negeri yang rakyatnya hanya makan sampah

Sampah dari janji- janji pemerintah

Ini negeri para bedebah

Korupsi bersimpah ruah

Hukum negara tak terarah

Martabat dijual murah

Maka tengoklah Kawan,

Inilah negeri para bedebah