Pluralisme

Pluralisme. Katanya bangsa kita bangsa yang menjunjung keanekaragaman dengan kata lain kita bangsa yang tidak jauh dengan keadaan pluralisme.

Kata pluralisme berasal dari bahasa Inggris (pluralism), terdiri dari dua kata plural (beragam) dan isme (paham) yang berarti beragam pemahaman, atau bermacam-macam paham. Dari penjelasan tersebut kesimpulan saya, secara sederhana pluralisme ditinjau dari sudut pandang keadaan/ kondisi adalah dimana dalam suatu lingkup tempat yang dihuni tidak hanya satu jenis spesies dengan kata lain bermacam-macam spesies. Seperti dalam pelajaran Bahasa Inggris, plural sendiri berarti jamak/banyak. So, what’s the next?

Pada dasarnya kita, bangsa Indonesia adalah masyarakat plural. Indonesia memiliki beraneka ragam ras, suku, budaya, dan agama. Sangat plural.

Lalu apa masalahnya?

Sudahkah kita menghargai pluralisme? Paling kecil dengan lingkungan sekitar lah. Kadang masalah agama membuat kita menjauhi seseorang, bahasa yang berbeda menimbulkan masalah dan perkelahian. Kadang ras tertentu menjadi minoritas dalam suatu tempat. Pluralisme masih menjadi masalah tabu dalam masyarakat. Bahkan pemimpin yang menjunjung pluralisme kadang dianggap salah. Masyarakat belum sadar bahwa mereka tidak hidup sendiri terutama mereka kaum mayoritas. Alasan mereka cukup relistis, mereka menganggap (misal agama) mereka paling benar. Sama sekali tidak salah karena setiap agama punya ajaran sendiri yang tentunya baik. Tapi bukan berarti mematikan eksistensi kelompok lain. Setidaknya berilah kesempatan pada kelompok lain, budaya merendahkan dan mengolok-olak setidaknya bisa dikurangi. dalam hal ini bukan berarti saya membela kaum minoritas dan mengecam pihak mayoritas yang kurang sekali menghargai kawan dalam keadaan pluralisme. Juga sebaliknya, bukan berarti ketika pihak minoritas juga berusaha melenyapkan pihak yang sekarang jadi mayoritas. Jadikan keadaan plura ini sebagai kelebihan dalam hidup bermasyarakat, menjadi ujian perdamaian bagi suatu bangsa dan justru buka menjadi akar masalah.

Mulai dari kita sendiri, keanekaragam itu diciptakan untuk menjadikan manusia saling menghargai bukan salih menyalahkan. Berhenti mengitimadasi agama, ras, suku selain kita, karena mereka juga mausia. Biarkan keanekaragam tumbuh, berkembang, dan hidup berdampigan.

Advertisements

Apa Kabar Generasi Muda Bangsa? (Part I)

Dari pemilihan judul dan tema pada post saya kali ini bukan untuk maksud sok politis, sok kritis atau apapun lah. Saya sebagai warga dan bagian dari masyarakat Indoonesia, negara saya tercinta tidak pernah bermaksud untuk menjelek- jelekan, mengatakan keburukan dari negara sendiri, tapi saya hanya ingin menyapaikan pendapat, opini atau mungkin lebih tepatnya unek- unek sebagai generasi muda bangsa.

langsung ke akar masalah,

Mungkin akhir- akhir ini banyak sekali permasalahan yang muncul di media me.ngenai berbagai kebobrokan pejabat negeri, yang tak asing dan tak rahasia lagi yaitu, Korupsi. Mungkin pengalaman dan pengetahuan saya sebagai seorang siswa menengah atas masih terlalu dangkal untuk menyoroti hal korupsi. Tapi, saya rasa Korupsi bukanlah hala yang tabu lagi untuk diperbincangkan. Keburukan golongan atas negeri, bukan hanya untuk konsumsi para kaum dewasa dan politikus, tapi seharusnya para generasi muda, pelajar sekalipun harus ikut kritis menghadapati masalah negara yang membelit berbagai sektor negeri. bukan hanya ‘galau’ (kata gaul remaja Indonesia sekarang) memikirkan yang sebenarnya tak perlu dan tidak wajib dipikirkan. Bagaimana generasi muda bisa memperbaiki mental bangsa di masa datang jika tidak pernah mengetahui keadaan bangsa sendiri? mau jadi apa negara ini jika golongan borjuis dan pemegang kekuasaan terus mencekik leher rakyat? Pelajar harusnya tak hanya bisa mendapatkan nilai bagus saja, mungkin di semua mata pelajaran tak terkecuali pelajaran kewarganegaraan dan agama, jika mental dan pikirannya masih mental anak lima tahun? Cobalah berfikir realistik, bagaimana bisa menghapus korupsi jika nilai 100 pelajaran kewaraganegaraan didapat dari mencontek, hasil ‘ramban’ dan openbook? mau sampai kapan mental itu mau dipelihara? bagaimana bisa Indonesia tanpa korupsi, coba? Iya, mungkin tidak semua siswa begitu, tapi saya berani jamin 80% – 90% , mereka tak pernah jujur dalam mencari nilai.

Kebobrokan pemerintahan dan berbagai sektor negeri, adalah sesungguhnya berawal dari pelaku sendiri dan generasi penerusnya.

Cukup sekian Apa Kabar Generasi Muda bangsa Part I, nantikan part selanjutnya. Danke!