Civil Servant, Lord of the Job

Malam kemarin aku tak sengaja membuka social media lama. Sedikit terkejut dengan foto yang di post oleh teman social mediaku yang juga merupakan teman SMA ku.
Hari ini aku ingin bercerita atau bertanya atau lebih tepatnya lagi menuangkan perasaan bingung atas fenomena masyarakat kita.
Kalian ingin tau apa yang ku lihat malam kemarin? Foto mantan? Bukan. Karena ini bukan blog curhat tentang percintaan dan aku juga tak akan pernah buat post atau blog berisi soal itu. Hal tabu yang tidak penting untuk diperdebatkan. Foto itu soal idelisme seseorang tapi cerminan idelisme kebanyakan masyarakat yang ada di sekitar kita atau bahkan anda sendiri. Dala foto itu, temanku sedang mengenakan pakaian hitam putih dan terkalung id card warna kuning di lehernya, ia berdiri dengan beberapa temannya. Lalu apa ?apa yang membuatku terkejut? Aku terkejut dia pindah tempat kuliah. Tapi sesungguhnya bukan itu saja. Aku tersadar beberapa hal dari foto itu, tentang pola pikir masyarakat sekarang.
Temanku itu setahun yang lalu diterima di Universitas Negeri di Surabaya yang cukup terekenal namanya di program sarjana, dan aku tahu dia cukup sukses di sana dibuktikan dengan IP cumlaude di awal semester dan aktif di organisasi. Tapi, awal bulan ini dia memilih pindah ke perguruan tinggi kedinasan yang juga terkenal yang tentunya bukan di program sarjana karena kalian tahu sendiri kan kalau PTK tidak ada level sarjananya. Lalu apa masalahku?
Aku bingung.
Sebenarnya apa yang kita cari dari sekolah uliah atau apalah namanya. Ilmukah? Temankah? Lulus langsung kerja kah? Atau apalah itu. Semenjajikan itukah menjadi seorang pegawai negeri?
Aku masih ingat betul, kata bapak dan Ibuku ,”Jadilah Pegawai negeri ya nak, yang gajinya banyak dan carilah suami yang pegawai negeri pula”. Dulu aku percaya itu, tapi sekarang aku meragukannya. Tapi aku yakin bahkan kalian yang membaca post ku ini pasti berkeinginan besar menjadi pegawai negeri, pesuruh negara. Terdengar mulia menjadi pesuruh negara tapi coba kalian pikirkan kembali dan ulangi kata “pesuruh negara” berulang kali kalian akan menyadari ada sisi hina dari seorang pesuruh negara.
Aku bingung.
Apa yang kita cari saat kita bekerja?
Uang? Pengalaman? Pahala? Atau sekedar meyalurkan hobi? Atau tidak ada?
Aku masih ingat kata guru agamaku dulu, kata beliau janganlah bekerja dengat niat cari uang tapi berniatlah bekerja karena Allah maka uang dan rejeki lainnya akan datang dengan sendirinya. Aku bukan ahli agama, ahli tafsir atau sejenisnya tapi bukankah jika kita bekerja niat karena Yang Mahakuasa harusnya tidak memilih- milih pekerjaan yang gajinya besar dan pekerjaannya hanya yaa, menghabiskan anggaran? You know what I mean kan lah ya.
Terlihat prestisius kuliah di perguruan tinggi yang terkenal akan lulusannya akan jadi pegawai negeri. Semua orang tua ingin anaknya seperti itu, termasuk orang tua saya. Berngkat kerja pagi sampai kantor duduk depan komputer dan melakukan pekerjaan yang sama berulang- ulang setiap harinya kecuali hari sabtu dan minggu dan mungkin beberapa tahun kemudian beralih ke kursi yang lebih empuk dan ruang yang lebih megah, pekerjaan yang lebih ringan dan tentunya pertambahan gaji yang lebih besar.
Aku iri. Ya iri bukan karena aku tidak bisa masuk perguruan tinggi yang lulusannya 99% jadi pesuruh negara. Bukan. Tapi aku iri mengapa masyarakat begitu memuja mereka, mengelu-elukan mereka yang tidak semua dari mereka benar- benar pintar dalam hal di bidangnya. Itu saja. Sesempit ituka pola pikir masyarakat kita?atau kita memang terlahir untuk muak akan hal- hal dinamis yang justru akan membuat kita semakin berkembang. Berkembang bukan hanya terus- terusan menjadi negara berkembang tapi menjadi negara maju, maju dalam segala hal termasuk mind set masyarakatnya.
Perguruan tinggi kedinasan tidak jelek sama sekali tidak jelek tapi sayangnya sisi lainnya seperti membuat pola pikir masyarakat akan ke-instan-an kesuksesan itu memang ada. Bahwa memajukan negara dengan inovasi itu tidak penting. Bahwa kepentingan diri sendiri itu lebih penting dari memajukan tempat kelahiran sendiri. Sedikitpun tak pernahkah kalian berpikir tentang itu? Tentang keegoisan hidup demi uang dari anggaran yang dicari dari hutang?
Aku memang bukan siapa-siapa, hanya mahasiswa diploma dari kampus kerakyatan yang punya mimpi besar. Yang selalu sabar dan tegar walaupun fakultasnya dianak tirikan oleh kampus induknya dan diambang ketidakjelasan statusnya. Aku selalu bermimpi dan berharap, Indonesia menghargai ide- ide kreatif, inovasi, dan keramahan lingkungan. Aku selalu optimis akan itu, tapi terkadang percuma berharap sendiri.
Uang membutakan harapan dan perjuangan. CPNS menjadi fenomena instant untuk meraih kursi jabatan. Aku tidak melarangnya, bagus ada CPNS (yang bersih) tapi tolonglah kalian para pegawai negeri dan calon pegawai negeri, berkerjalah untuk negara janganlah jadi robot pesuruh yang hina, selalu ciptakan inovasi walaupun tempat kerjamu mengekangmu. Bisa kah kalian? Janganlah hanya bercita- cita jadi seorang yang menghabiskan pendapatan negara saja. Jangan berkaca pada mereka yang mencuri uang negara, kapan kita para pemuda menjadi agen perubahan jika masih saja apatis dengan perilaku seperti itu walau dalam porsi kecil saja? Kapan negar kita mampu maju? Kapan? Tanyakan itu pada diri kalian.

Advertisements

PEMILU, Pemilihan Memilukan

Tepat hari ini, masa kampanye berakhir. Dan tepat hari ini pembersihan seluruh atribut kampanye seharusnya dilakukan.

Sebelum saya lanjutkan uraian topik kali ini, saya ingin tanya pada kalian, sudahkah punya kandidat legislator dan partai yang akan dipilih? Oke sebelum pertanyaan itu, Apakah kalian sudah punya rencana untuk memilih? Terserah kalian mau jawab apa tapi untuk saya pribadi saya menjawab belum atau mungkin tidak. Di sini saya tidak mengajak ataupun menyuruh kalian untuk mengikuti apa yang saya lakukan tapi disini saya hanya menguraikan apa yang saya rasakan dan saya ketahui.

Saya memang tidak tahu banyak mengenai pemilu tapi yang saya tahu dan kemungkinan besar orang juga tahu bahwa pemilu seharusnya sesuai asas pemilu itu sendiri, Langsung Bebas Rahasia Jujur dan Adil. Apa iya pemilu yang akan diselenggarakan 9 April mendatang sudah sesuai dengan asas pemilu? Who knows. Tapi diuraian saya kali ini saya ingin menyoroti asas terakhir yaitu Adil. Sudahkah ada keadilan di pemilu 2014 ini? oke tidak usah muluk- muluk lah, Sudahkah ada tanda- tanda keadilan di pemilu 2014 ini? Sudah? Saya rasa belum.

Adil dalam pemilu bukan hanya adil dalam pemeberian jadwal kampanye. Sudahkah Pemerintah adil dalam pemberian hak memilih? Sudahkah? Sudahkah kalian punya hak pilih yang seharusnya kalian miliki? Sudahkah? Pemilu tanpa pemilih merata apakah adil? Oke, terserahlah pemerintah punya rencana apa di pemilu tahun ini, tapi saya hanya ingin menyuarakan opini mereka yang tidak diberikan kesempatan untuk memilih. Entah mereka memang tidak ada niat untuk memilih atau memang terhimpit keadaan yang tidak memumgkinkan untuk hanya mencoblos gambar orang yang pada dasarnya belum tentu amanah dengan jabatannya kelak. Tapi mbok ya setidaknya pemerintah memikirkan kita, ya termasuk saya, untuk diberi kesempatan menyuarakan pilihan. I said, Kita para Mahasiswa atau okelah orang- orang rantauan mana mungkin pulang ke kampung asal hanya untuk mencoblos, oh mungkin saya menganggap remeh mencoblos. Tapi memang keyataannya begitu. Saya tahu pemerintah sudah banyak memikirkan rakyatnya atau mungkin pemerintah memang sengaja? Saya bukannya suudzon tapi memang terlihat begitu. Para kaum muda yang seharusnya menjadi pemimpin masa depan negara, apa iya selalu terhalang aspirasnya hanya karena masalah kertas suara yang minim? Seperti terlihat pemerintah memang meghalangi kita terutama Mahasiswa untuk ikut berpartsipasi. Tapi okelah, saya bukan siapa- siapa untuk hanya mengkitik pemerintah tapi kembali ke awal saya hanya menguraikan apa yang ada.

Oke mungkin masih banyak orang yang punya hak pilih tapi tidak mau memilh, banyak. Tapi setidaknya kalianlah yang menjadi perwakilan kawan- kawan kalian yang be;um berkesempatan memilih. So, pilihlah yang terbaik untuk negara kita. Pilihlah legislator yang benar- benar amanah pada rakyatnya.

Negeri Apa Ini ?

Aku tak tahu aku dimana

Tapi yang jelas aku tahu namanya

Indonesia

ya, Negeri yang katanya indah

Negeri yang katanya bak surga dunia

Negeri yang katanya tak akan habis sumber dayanya

Tapi nyatanya ?

Ini Negeri para bedebah

Negeri dengan pemimimpin khianat

Negeri yang rakyatnya hanya makan sampah

Sampah dari janji- janji pemerintah

Ini negeri para bedebah

Korupsi bersimpah ruah

Hukum negara tak terarah

Martabat dijual murah

Maka tengoklah Kawan,

Inilah negeri para bedebah

 

Aside

Ketika orang lain menghujatmu

Ketika orang lain mempertanyakan kemampuanmu

Ketika orang lain menganggapmu dungu

Dan bahkan ketika kau merasa semua orang menganggapmu tak berarti

Yakinlah kau pasti masih berarti untuk sesorang

Entah dia masih ada ataupun tidak

Setidaknya dia tulus padamu, bahkan lebih tulus dari pendampingmu kelak

Ketika kau merasa tak punya siapapun

Dan ketika kau harus berjalan diatas jarum pun

Dia selalu ada untukmu, di aliran darahmu yang terus mengalir

Banggakan dia dan selalu sebutkan dia dalam doamu

Ibu, Aku tak akan kecewakanmu

Kadang aku takut dengan hari esok

Aku takut, aku tak bisa lebih baik

Aku takut, aku hanya bisa berbuat begini

Aku takut, aku hanya mempersial orang lain

Tapi hal yang paling ku takutkan

Aku takut, aku tak bisa menggapai mimpi ini

Mimpi-mimpi indah yang kurangkai dengan setengah hati

Mimpi- mimpi yang menjadi sandaranku berdiri

Mimpi- mimpi yang menjagaku dari iri

Mimpi- mimpi yang menjadi suluh semangatku setiap hari

Tapi kini aku takut mimpi- mimpi itu pergi, aku takut mereka tak pernah kembali lagi

Salahkan Aku, Tuhan

Ketika aku tersadar di tempat yang salah

Ketika aku merasa salah melangkah

Ketika aku tak punya kuasa untuk menyalahkan

Ketika aku hanya selalu menjadi yang disalahkan

Lalu apa yang harus ku lakukan, Tuhan?

Ketika mereka tak pernah berlaku adil padaku

Ketika mereka hanya memanfaatkanku

Ketika mereka hanya menganggapku sampah

Ketika mereka tak pernah adil dengan perasaan ini

Lalu haruskah aku hanya mengadu pada-Mu, Tuhan?

Apakah aku tak pantas menjadi bagian yang pantas?

Ataukah aku hanya untuk memantaskan keadaan?

Ketika aku tak punya siapapun untuk menuangkan ragu

Ketika semua orang menjauh dari jalanku

Ketika keadaan memaksaku untuk tegar

Dan ketika sesungguhnya aku tidak bisa lakukan itu selamanya

Dan ketika aku sudah tak bisa berlaku seakan tak ada apa-apa

Keadaan ini membuatku menahan jujur