Sehina Itukah para Pesepeda?

Aku tahu aku paham, para pesepeda itu kaum minoritas. Banyak yang bilang orang yang naik sepeda itu kumuh, miskin, kere, bodoh, gak jaman, gak keren, dan lainnya yang jelek- jelek. Kalian boleh ngomong kayak gitu, boleh banget. Tapi para pesepeda juga manusia, kan? Sekarang aku tanya, dulu yang mendiami bumi duluan sepeda tau sepeda motor (dan kawan-kawan kendaraan bermesin lainnya)? Sepeda motor itu cuman perkembangan dari sepeda, gak jauh-jauh amat. Basic-nya juga dari sepeda keleus.

“Orang yang naik sepeda onthel itu pasti kere dan miskin, mana mungkin naik sepeda kalau punya duit”

Kenyataan emang bener 80% pemakai sepeda di Indonesia gak berduit, bukan orang kaya yang ngehamburin duit buat beli barang yang cuma bisa nambah polusi dan menambah angka kematian. Tapi mereka lebih bermartabat dari pada kalian. 20 % nya lagi toh juga bukan tipe orang kere. Pakai sepeda itu pilihan, pilihan yang bermanfaat tentunya. Alasan mereka pake sepeda itu karena kesadaran, mungkin karena emang gak bisa pake motor, gak mau naik motor, atau bisa naik motor tapi memilih naik sepeda. Nah, gimana? Daripada kere tapi sok-sokan naik motor lebih gak guna kan.

“Mereka yang naik sepeda itu ndeso, goblok, gak jaman, gak mutu”

Sepeda emang identik dengan orang desa yang emang gak ada kendaraan lain. Goblok karena mereka kan bukan keturunan bangsawan yang pinter, paling kalaupun dia masih muda orangtuanya Cuma bekerja jadi petani atau guru SD yang penghasilannya pas-pasan dan gak ada keturunan pinter, cerdas, berintegritas. Tapi kalian coba tengok ke negara- negara maju, ada gak motor yang lewat dijalan? Ada? Udah nemu? Coba ke Eropa deh, gak ada tuh bengkel motor paling cuman satu dua bengkel motor, itupun buat moge bukan motor bebek atau apalah itu yang banyak dijalanan Indonesia. “Tapi kan beda dong Indonesia sama Eropa? Mikir dong, mana mungkin kita ikut-ikutan, demografis dan lingkungan aja gak mendukung”. Nah itu pikiran orang yang gak openminded, lingkungan gak mendukung itu ya cara berpikir kalian, coba deh setiap orang paling gak yang berpendidikan deh, berhenti pake motor. “Tapi entar gini gini ini itu, rumahku kan jauh” nah, gak bisa kan, kebanyakn alesan kan? Bisa kalian kayak kita pake sepeda? Jauh? Pake angkutan umum dong. Masalah pemerintah sekarang bagaimana menyadarkan kalian pengguna motor itu, udah ngabisin subsidi, nambah polusi, nambah keruwetan lalu lintas. Kapan bisa maju ini negara? Saya mendukung banget BBM naik, karena apa? Biar kalian sadar, gak beli motor mulu. Kalau perlu bbm naik sampe 100 ribu aja sekalian. Coba deh setiap anak muda paling gak mikir, otaknya dipake mikir kayak gitu, kalau pengguna motor rendah, pemerintah juga nambah fasilitas umum, diperbaiki noh bus-bus umum.

Juga buat universitas yang katanya menjunjung green campus tuh, kebijakannya diperbaiki! Katanya educopolis tapi pengguna sepeda masih disis-sia kan, motor masih berlalu-lalang. Motor mobil ngehabisin lahan parkir doang. Mbokya dipikir kali cara mngusir mereka dari pada cuman pake KIK dan blablabla, kenapa gak pake bus kampus atau apalah. Dibuat jalur sepeda tapi yang make motor, speda disuruh lewat mana? Udara? Entar gantian ditabrak pesawat. Dibuat tuh speda kampus tapi nyatanya malah tersungkur karatan dipojokan. Jalan-jalanan tertentu malah ditutup, menghambat! Coba deh bikin peraturan maba harus pake sepeda sampai lulus, atau kawasan kampus bener-bener bebas kendaraan bermotor. Gak berani ditentang mahasiswa yang kaya dan anaknya pejabat? Ha, itu namanya bukan kampus kerakyatan.

Sekarang kalian mau apa? Mau nyacat mulu sama pesepeda, nyalahin kita terus? Malu gak sih kalian. Kalian itu lebih gak bermoral, gak tau diuntung tinggal di bumi. Paling gak, hormati lah kita para pesepeda dan pejalan kaki. Kita sama-sama pengguna jalan dan penghuni bumi, gak usah sok-sokan lah. Kita lebih tough daripada kalian!

Pluralisme

Pluralisme. Katanya bangsa kita bangsa yang menjunjung keanekaragaman dengan kata lain kita bangsa yang tidak jauh dengan keadaan pluralisme.

Kata pluralisme berasal dari bahasa Inggris (pluralism), terdiri dari dua kata plural (beragam) dan isme (paham) yang berarti beragam pemahaman, atau bermacam-macam paham. Dari penjelasan tersebut kesimpulan saya, secara sederhana pluralisme ditinjau dari sudut pandang keadaan/ kondisi adalah dimana dalam suatu lingkup tempat yang dihuni tidak hanya satu jenis spesies dengan kata lain bermacam-macam spesies. Seperti dalam pelajaran Bahasa Inggris, plural sendiri berarti jamak/banyak. So, what’s the next?

Pada dasarnya kita, bangsa Indonesia adalah masyarakat plural. Indonesia memiliki beraneka ragam ras, suku, budaya, dan agama. Sangat plural.

Lalu apa masalahnya?

Sudahkah kita menghargai pluralisme? Paling kecil dengan lingkungan sekitar lah. Kadang masalah agama membuat kita menjauhi seseorang, bahasa yang berbeda menimbulkan masalah dan perkelahian. Kadang ras tertentu menjadi minoritas dalam suatu tempat. Pluralisme masih menjadi masalah tabu dalam masyarakat. Bahkan pemimpin yang menjunjung pluralisme kadang dianggap salah. Masyarakat belum sadar bahwa mereka tidak hidup sendiri terutama mereka kaum mayoritas. Alasan mereka cukup relistis, mereka menganggap (misal agama) mereka paling benar. Sama sekali tidak salah karena setiap agama punya ajaran sendiri yang tentunya baik. Tapi bukan berarti mematikan eksistensi kelompok lain. Setidaknya berilah kesempatan pada kelompok lain, budaya merendahkan dan mengolok-olak setidaknya bisa dikurangi. dalam hal ini bukan berarti saya membela kaum minoritas dan mengecam pihak mayoritas yang kurang sekali menghargai kawan dalam keadaan pluralisme. Juga sebaliknya, bukan berarti ketika pihak minoritas juga berusaha melenyapkan pihak yang sekarang jadi mayoritas. Jadikan keadaan plura ini sebagai kelebihan dalam hidup bermasyarakat, menjadi ujian perdamaian bagi suatu bangsa dan justru buka menjadi akar masalah.

Mulai dari kita sendiri, keanekaragam itu diciptakan untuk menjadikan manusia saling menghargai bukan salih menyalahkan. Berhenti mengitimadasi agama, ras, suku selain kita, karena mereka juga mausia. Biarkan keanekaragam tumbuh, berkembang, dan hidup berdampigan.

Siapa Bilang Sekolah di UGM Masuknya Susah?

Universitas Gadjah mada
Siapa sih yang gak tahu UGM? Itu lho Universitas yang punya prodi terbanyak di Indonesia dan yang katanya disebut sebagai kampus kerakyatan. Pokoknya kampus idaman banget bagi anak kelas XII SMA. Dari fakta yang ada memang benar UGM itu termasuk universitas favorit di Indonesia. Oke coba saya sebutkan ke-amazing-an UGM;
1. Lokasi strategis, luas, dan bangunan yang megah nan moderen
2. Kurikulum standar internasional
3. Pengajar yang berkualitas dan rata-rata doctor coy!
4. Lulusannya pun berkualitas, dibuktikan dengan mudahnya mendapat pekerjaan dan banyak orang terkenal (Politisi, Presiden!,Menteri,Entrepreneur,Ilmuan,Model!,dll) adalah lulusan UGM! Keren gak!?
5. Mahasiswa/i nya ramah, pintar, cantik, ganteng, dan kritis. Pokoknya TOPBGT!
6. Katanya sih pro sama mahasiswa miskin
7. Prodi yang ditawarkan cukup lengkap dan rata- rata terakreditasi A, Cuma ada sih yang blablabla gitu
8. Saringan masuknya ketat, jadi yang gak pintar jangan berharap bisa kuliah S1 UGM! Catet
9. Event-event keren sering banget di UGM, mulai konser musik, seminar, talkshow, pelitah blablabla, job fair, festival apaan gitu dan masih banyak lagi tapi bayar tentunya hehe. Eh tapi kadang ada yang gratis kok
10. Yang terpenting kalau kalian kuliah di UGM itu kelihatan WAH! Dan ber-integritas tinggi. Secara universitasnya orang terkemuka bro!
Nah udah ngerasa merinding belum merasakan gimana rasanya kuliah di UGM bagi kalian UGM-dreamer ? eh eh tapi kok tagline judul nya sekolah di UGM gak susah? Maksudnya apa?! Aseeek, ini nih yang ditunggu- tunggu, bagi kalian para UGM dreamer jangan kecil hati dulu yaa kalau nantinya gak bisa kuliah di UGM, masih ada jalan yang pintunya terbuka lebar bagi kalian untuk sekolah di UGM dan sama-sama dapat jaket almamater karung goni nya kok. Buat kalian yang mengerti, IQ TOP. Saya doakan semoga bisa KULIAH DI UGM!

Civil Servant, Lord of the Job

Malam kemarin aku tak sengaja membuka social media lama. Sedikit terkejut dengan foto yang di post oleh teman social mediaku yang juga merupakan teman SMA ku.
Hari ini aku ingin bercerita atau bertanya atau lebih tepatnya lagi menuangkan perasaan bingung atas fenomena masyarakat kita.
Kalian ingin tau apa yang ku lihat malam kemarin? Foto mantan? Bukan. Karena ini bukan blog curhat tentang percintaan dan aku juga tak akan pernah buat post atau blog berisi soal itu. Hal tabu yang tidak penting untuk diperdebatkan. Foto itu soal idelisme seseorang tapi cerminan idelisme kebanyakan masyarakat yang ada di sekitar kita atau bahkan anda sendiri. Dala foto itu, temanku sedang mengenakan pakaian hitam putih dan terkalung id card warna kuning di lehernya, ia berdiri dengan beberapa temannya. Lalu apa ?apa yang membuatku terkejut? Aku terkejut dia pindah tempat kuliah. Tapi sesungguhnya bukan itu saja. Aku tersadar beberapa hal dari foto itu, tentang pola pikir masyarakat sekarang.
Temanku itu setahun yang lalu diterima di Universitas Negeri di Surabaya yang cukup terekenal namanya di program sarjana, dan aku tahu dia cukup sukses di sana dibuktikan dengan IP cumlaude di awal semester dan aktif di organisasi. Tapi, awal bulan ini dia memilih pindah ke perguruan tinggi kedinasan yang juga terkenal yang tentunya bukan di program sarjana karena kalian tahu sendiri kan kalau PTK tidak ada level sarjananya. Lalu apa masalahku?
Aku bingung.
Sebenarnya apa yang kita cari dari sekolah uliah atau apalah namanya. Ilmukah? Temankah? Lulus langsung kerja kah? Atau apalah itu. Semenjajikan itukah menjadi seorang pegawai negeri?
Aku masih ingat betul, kata bapak dan Ibuku ,”Jadilah Pegawai negeri ya nak, yang gajinya banyak dan carilah suami yang pegawai negeri pula”. Dulu aku percaya itu, tapi sekarang aku meragukannya. Tapi aku yakin bahkan kalian yang membaca post ku ini pasti berkeinginan besar menjadi pegawai negeri, pesuruh negara. Terdengar mulia menjadi pesuruh negara tapi coba kalian pikirkan kembali dan ulangi kata “pesuruh negara” berulang kali kalian akan menyadari ada sisi hina dari seorang pesuruh negara.
Aku bingung.
Apa yang kita cari saat kita bekerja?
Uang? Pengalaman? Pahala? Atau sekedar meyalurkan hobi? Atau tidak ada?
Aku masih ingat kata guru agamaku dulu, kata beliau janganlah bekerja dengat niat cari uang tapi berniatlah bekerja karena Allah maka uang dan rejeki lainnya akan datang dengan sendirinya. Aku bukan ahli agama, ahli tafsir atau sejenisnya tapi bukankah jika kita bekerja niat karena Yang Mahakuasa harusnya tidak memilih- milih pekerjaan yang gajinya besar dan pekerjaannya hanya yaa, menghabiskan anggaran? You know what I mean kan lah ya.
Terlihat prestisius kuliah di perguruan tinggi yang terkenal akan lulusannya akan jadi pegawai negeri. Semua orang tua ingin anaknya seperti itu, termasuk orang tua saya. Berngkat kerja pagi sampai kantor duduk depan komputer dan melakukan pekerjaan yang sama berulang- ulang setiap harinya kecuali hari sabtu dan minggu dan mungkin beberapa tahun kemudian beralih ke kursi yang lebih empuk dan ruang yang lebih megah, pekerjaan yang lebih ringan dan tentunya pertambahan gaji yang lebih besar.
Aku iri. Ya iri bukan karena aku tidak bisa masuk perguruan tinggi yang lulusannya 99% jadi pesuruh negara. Bukan. Tapi aku iri mengapa masyarakat begitu memuja mereka, mengelu-elukan mereka yang tidak semua dari mereka benar- benar pintar dalam hal di bidangnya. Itu saja. Sesempit ituka pola pikir masyarakat kita?atau kita memang terlahir untuk muak akan hal- hal dinamis yang justru akan membuat kita semakin berkembang. Berkembang bukan hanya terus- terusan menjadi negara berkembang tapi menjadi negara maju, maju dalam segala hal termasuk mind set masyarakatnya.
Perguruan tinggi kedinasan tidak jelek sama sekali tidak jelek tapi sayangnya sisi lainnya seperti membuat pola pikir masyarakat akan ke-instan-an kesuksesan itu memang ada. Bahwa memajukan negara dengan inovasi itu tidak penting. Bahwa kepentingan diri sendiri itu lebih penting dari memajukan tempat kelahiran sendiri. Sedikitpun tak pernahkah kalian berpikir tentang itu? Tentang keegoisan hidup demi uang dari anggaran yang dicari dari hutang?
Aku memang bukan siapa-siapa, hanya mahasiswa diploma dari kampus kerakyatan yang punya mimpi besar. Yang selalu sabar dan tegar walaupun fakultasnya dianak tirikan oleh kampus induknya dan diambang ketidakjelasan statusnya. Aku selalu bermimpi dan berharap, Indonesia menghargai ide- ide kreatif, inovasi, dan keramahan lingkungan. Aku selalu optimis akan itu, tapi terkadang percuma berharap sendiri.
Uang membutakan harapan dan perjuangan. CPNS menjadi fenomena instant untuk meraih kursi jabatan. Aku tidak melarangnya, bagus ada CPNS (yang bersih) tapi tolonglah kalian para pegawai negeri dan calon pegawai negeri, berkerjalah untuk negara janganlah jadi robot pesuruh yang hina, selalu ciptakan inovasi walaupun tempat kerjamu mengekangmu. Bisa kah kalian? Janganlah hanya bercita- cita jadi seorang yang menghabiskan pendapatan negara saja. Jangan berkaca pada mereka yang mencuri uang negara, kapan kita para pemuda menjadi agen perubahan jika masih saja apatis dengan perilaku seperti itu walau dalam porsi kecil saja? Kapan negar kita mampu maju? Kapan? Tanyakan itu pada diri kalian.

PEMILU, Pemilihan Memilukan

Tepat hari ini, masa kampanye berakhir. Dan tepat hari ini pembersihan seluruh atribut kampanye seharusnya dilakukan.

Sebelum saya lanjutkan uraian topik kali ini, saya ingin tanya pada kalian, sudahkah punya kandidat legislator dan partai yang akan dipilih? Oke sebelum pertanyaan itu, Apakah kalian sudah punya rencana untuk memilih? Terserah kalian mau jawab apa tapi untuk saya pribadi saya menjawab belum atau mungkin tidak. Di sini saya tidak mengajak ataupun menyuruh kalian untuk mengikuti apa yang saya lakukan tapi disini saya hanya menguraikan apa yang saya rasakan dan saya ketahui.

Saya memang tidak tahu banyak mengenai pemilu tapi yang saya tahu dan kemungkinan besar orang juga tahu bahwa pemilu seharusnya sesuai asas pemilu itu sendiri, Langsung Bebas Rahasia Jujur dan Adil. Apa iya pemilu yang akan diselenggarakan 9 April mendatang sudah sesuai dengan asas pemilu? Who knows. Tapi diuraian saya kali ini saya ingin menyoroti asas terakhir yaitu Adil. Sudahkah ada keadilan di pemilu 2014 ini? oke tidak usah muluk- muluk lah, Sudahkah ada tanda- tanda keadilan di pemilu 2014 ini? Sudah? Saya rasa belum.

Adil dalam pemilu bukan hanya adil dalam pemeberian jadwal kampanye. Sudahkah Pemerintah adil dalam pemberian hak memilih? Sudahkah? Sudahkah kalian punya hak pilih yang seharusnya kalian miliki? Sudahkah? Pemilu tanpa pemilih merata apakah adil? Oke, terserahlah pemerintah punya rencana apa di pemilu tahun ini, tapi saya hanya ingin menyuarakan opini mereka yang tidak diberikan kesempatan untuk memilih. Entah mereka memang tidak ada niat untuk memilih atau memang terhimpit keadaan yang tidak memumgkinkan untuk hanya mencoblos gambar orang yang pada dasarnya belum tentu amanah dengan jabatannya kelak. Tapi mbok ya setidaknya pemerintah memikirkan kita, ya termasuk saya, untuk diberi kesempatan menyuarakan pilihan. I said, Kita para Mahasiswa atau okelah orang- orang rantauan mana mungkin pulang ke kampung asal hanya untuk mencoblos, oh mungkin saya menganggap remeh mencoblos. Tapi memang keyataannya begitu. Saya tahu pemerintah sudah banyak memikirkan rakyatnya atau mungkin pemerintah memang sengaja? Saya bukannya suudzon tapi memang terlihat begitu. Para kaum muda yang seharusnya menjadi pemimpin masa depan negara, apa iya selalu terhalang aspirasnya hanya karena masalah kertas suara yang minim? Seperti terlihat pemerintah memang meghalangi kita terutama Mahasiswa untuk ikut berpartsipasi. Tapi okelah, saya bukan siapa- siapa untuk hanya mengkitik pemerintah tapi kembali ke awal saya hanya menguraikan apa yang ada.

Oke mungkin masih banyak orang yang punya hak pilih tapi tidak mau memilh, banyak. Tapi setidaknya kalianlah yang menjadi perwakilan kawan- kawan kalian yang be;um berkesempatan memilih. So, pilihlah yang terbaik untuk negara kita. Pilihlah legislator yang benar- benar amanah pada rakyatnya.

Negeri Apa Ini ?

Aku tak tahu aku dimana

Tapi yang jelas aku tahu namanya

Indonesia

ya, Negeri yang katanya indah

Negeri yang katanya bak surga dunia

Negeri yang katanya tak akan habis sumber dayanya

Tapi nyatanya ?

Ini Negeri para bedebah

Negeri dengan pemimimpin khianat

Negeri yang rakyatnya hanya makan sampah

Sampah dari janji- janji pemerintah

Ini negeri para bedebah

Korupsi bersimpah ruah

Hukum negara tak terarah

Martabat dijual murah

Maka tengoklah Kawan,

Inilah negeri para bedebah